Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

https://www.uhamka.ac.id/reg

Krisis perekonomian Indonesia pada tahun 1998 dan 2008

Krisis perekonomian Indonesia pada tahun 1998 dan 2008 Pada tahun 1998 hingga 2008 keadaan perekonomian Indonesia sangat buruk. Pada tah...

Krisis perekonomian Indonesia pada tahun 1998 dan 2008

Krisis perekonomian Indonesia pada tahun 1998 dan 2008 Pada tahun 1998 hingga 2008 keadaan perekonomian Indonesia sangat buruk. Pada tahun tersebut, Indonesia sedang terjadi krisis perekonomian yang diakibatkan oleh menurunnya harga saham dan menurunnya nilai rupiah Indonesia terhadap dolar. Biaya obligasi yang meningkat diperoleh dari kearifan bank sentral Amerika yang menjalankan  pengetaan pada kondisi perekonomian Indonesia.  Pengetaan dolar Amerika membuktikan perbaikan dari permasalahan ekonomi amerika pada tahun 2008.Masalah perniagaan yang sedang terjadi pada Amerika Serikat mengakibatkan efek buruk kepada perekonomian negara. Amerika Serikat dinilai memerankan sumbu perekonomian dunia. Penguasa negara memastikan bahwa ketegangan ekonomi tidak menimbulkan efek buruk yang berlebihan kepada ekonomi Indonesia. Menteri keuangan Chatib Basri menaksir kegiatan ekonomi pada saat ini tidak jauh berbeda dengan kegiatan ekonomi yang buruk pada tahun 1998 dan 2008. Dalam histori perekonomian Indonesia, tahun 1998 adalah tahun yang menjadi bukti kesengsaraan perekonomian bangsa yang berjalan sangat tragis dan teragendakan sebagai ambang yang suram. Terperosoknya performa ekonomi yang di dapat selama dua dekade dalam setahun mengakibatkan krisis dan juga menghancurkan harapan yang indah di mata masyarakat Indonesia. Berkembangnya krisis ekonomi yang berlangsung pada bulan ke-6 tahun 1997 membuat warga negara ricuh dan menimbulkan krisis ekonomi, oleh sebab itu masyarakat yang kesehariannya bergelut dalam bidang usaha sangat merasakan krisis tersebut. Stabilitas ekonomi dan rupiah tidak dapat diperbaiki secara cepat oleh Dana Moneter Internasional pada tahun 1997, sehingga tercatatlah krisis ekonomi terparah yang berada di Asia Tenggara. Kepemerintahan pada masa Ir. Soeharto di anggap gagal untuk melindungi stabilitas negara Indonesia, beliau yang saat itu menjabat sebagai presiden Republik Indonesia mendapatkan permintaan untuk menurunkan jabatannya sebagai kepala pemerintah karena banyak sekali rakyat yang mengalami kerusuhan dimana-mana khususnya ibu kota Jakarta.  Masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhannya karena meningkatnya biaya produk-produk yang di jual dipasaran. Bagaikan dampak bola salju, permasalahan yang awal mulanya berasal dari krisis nilai tukar Baht di Thailand 2 Juli 1997, hanya dalam waktu setahun yaitu pada tahun 1998 dapat melaju dengan cepat menjadi kendala ekonomi yang sangat buruk, kemudian munculnya kendala atau permasalahan sosial dan dilanjut dengan kendala politik. Kendala-kendala yang terjadi pada era tersebut membuat krisis total yang mematikan kehidupan bangsa Indonesia, semua sektor yang berada di Indonesia dapat dengan mudah goyah dan dari permasalahan ini pemicu utamanya adalah d evaluasi Baht. Krisis pelemahan atau nilai tukar mata uang Baht terhadap dolar Amerika Serikat terjadi di Thailand pada tahun 2013. Namun tetap,  Menteri keuangan yang merangkap jabatan menjadi kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal menilai bahwa kondisi pada saat ini sangat jauh berbeda dengan kondisi krisis perekonomian pada tahun 1998. Meskipun krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh devaluasi Bath,  tetapi krisis ekonomi saat ini belum menimbulkan efek pada Indoneisa. Thailand dan India yang merupakan negara berkembang mengalami dampak dari permasalahan yang terjadi karena adanya pemberhentian quantitative easing. Selain itu, domestik yang dipengaruhi oleh Keadaan defisit transaksi yang meningkat hingga 4,4 %. Nilai tukar rupiah mencapai Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat pada awal tahun 1998. Pada akhir tahun 1997 nilai tukar Rupiah beranjak sekitar Rp 4.850 per dolar Amerika Serikat. Rupiah yang tinggi di anggap tidak realistis karena mengakibatkan tingginya permintaan do lar untuk melunasi tagihan dan mengakibatkan angka-angka RAPBN 1998/1999. Pasar modal dan pasar uang yang runtuh disebabkan oleh turunnya mata uang Indonesia secara menggemparkan. Bank dalam negeri sedang mengalami kerumitan yang cukup besar dari peringkat global bank yang berkembang dan juga Surat hutang pengelola negara selalu menurun kepada tingkatan di bawah normal. Ratusan, maupun ribuan perusahaan mengalami insolvent baik dari skala yang terendah hingga skala tinggi. Pasar modal mencatat 70% perusahaan mengalami insolvent atau kebangkrutan. Sektor konstruksi, sektor manufaktur, dan sektor perbankan merupakan sektor yang sangat mengalami kerugian, sehingga membuat aliran yang cukup luas yaitu pemutusan hubungan kerja. 20 juta orang atau 20% dari pegawai atau karyawan mengalami pengangguran yang cukup meningkat kepada tingkatan yang belum pernah terlaksanakan pada akhir tahun 1960. Sekitar 50% dari jumlah penduduk masyarakat Indonesia mengalami garis kemiskinan yang meningkat setiap tahunnya, kondisi tersebut diakibatkan oleh PHK dan melonjaknya biaya- biaya di pasaran dengan sangat kilat. Sedangkan, masyarakat kelas menengah ke atas ramai menggempur kios-kios bahan pokok untuk melakukan persediaan karena gelisah akan melonjaknya harga-harga di pasar. Data BPS membuktikan bahwa pada tahun 1996, pendapatan mencapai USD 1.155 per kapita. Tahun 1997, mendapatkan USD 1.088 per kapita. Tahun 1998, menurun menjadi USD 610 per kapita. Perekonomian Indonesia masih mencatat progres yang baik yaitu 3,4% pada kuartal ketiga 1997 dan 0% pada kuartal keempat 1997, dan terus berlanjut menjadi -7,9% pada kuartal pertama 1998, -16,5% pada kuartal kedua 1998. -17,9% pada kuartal ketiga 1998. Anjloknya harga saham di pasar modal dari 467,339 pada tahun 1997 menjadi 292,12 pada tahun 1998. Sedangkan, kapitalisasi menurun drastis dari RP 226 triliun menjadi RP 196 triliyun pada awal Juli 1998. Chatib mengungkapkan bahwa kredit macet mencapai 30% pada tahun 1998 dan kredit macet saat ini berkisar 5%. Banyak sekali investor yang enggan menyimpan asetnya di Indonesia, karena krisis politik yang menajam pada saat 1998. Pihak di luar negeri menolak letter of credit dari Indonesia dan peminjam di luar negeri mengklaim penerima pinjaman di Indonesia untuk menyegerakan membayar tagihannya, USD 9,8 miliar hutang jangka pendek dari pihak Indonesia yang sudah jatuh tempo. Krisis ekonomi Indonesia tahun 2008 sangat berbeda dengan krisis ekonomi tahun 1998, karena adanya kemorosotan ekonomi yang terjadi oleh Amerika Serikat dan mempengaruhi negara-negara lain. penurunan permintaan impor dari Indonesia disebabkan karena penurunan daya beli masyarakat di Amerika Serikat, maka ekspor Indonesia melemah dan mengakibatkan kerugian neraca pembayaran Indonesia. Kerugian tersebut sebesar USD 2,2 miliar pada tahun 2008. Hingga pertengahan bulan september 2008, adanya pergerakan yang relatif konstan terhadap nilai tukar Rupiah. Hal tersebut diakibatkan oleh kemampuan berbisnis yang bergerak dan masih adanya profit. Kriris global yang sangat parah telah memberi dampak penyusutan mata uang. Pada bulan November 2008, kurs rupiah berkisar RP 11.711 per dolar Amerika Serikat. Sedangkan pada bulan sebelumnya berkisar Rp 10.048 per dolar Amerika Serikat. Penurunan daya beli masyarakat di seluruh negara yang diakibatkan oleh krisis global. Penyusutan tidak menjadikan ekspor Indonesia membaik, sebaliknya membuat ekspor Indonesia menjadi menurun. Badan Pusat Statistik melaporkan, bahwa adanya penurunan angka pada Desember 2008 sebesar USD 8,69 miliar, sedangkan pada Januari 2009 nilai ekspor Indonesia hanya sebesar USD 7,15 miliar. Pada krisis ekonomi 2008, inflasi mencapai level 12,14%, hal tersebut karena adanya dorongan dari meningkatnya harga minyak dunia dan biaya penjualan global yang tinggi. Menteri keuangan mengungkapkan bahwa dari meningkatnya harga subsidi BBM dapat membuat kinerja impor migas mengalami penyusutan, sehingga anggaran pemerintah dapat diselamatkan dari biaya subsidi ke pembangunan lainnya. Namun inflasi tersebut telah menurun di akhir tahun 2008 karena menurunnya harga subsidi BBM dan harga penjualan. Penulis : Nadya Muharani NIM : 1502025180 Sumber : https://www.merdeka.com/uang/kondisi-ekonomi-saat-ini-berbeda-dengan-krisis-1998-dan-2008.html Sumber gambar :https://www.google.co.id/search?dcr=0&biw=1366&bih=662&tbm=isch&sa=1&ei=hqsmWriHKcPcvASbiaPoCA&q=krisis+ekonomi+tahun+1998+dan+2008&oq=krisis+ekonomi+tahun+1998+dan+2008&gs_l=psy-ab.3..0i24k1.81490.113084.0.113561.36.25.0.3.3.0.730.730.6-1.1.0....0...1c.1.64.psy-ab..32.4.744....0.CAsWcwLJpwQ#imgrc=5o_YNwIGf31CwM: